saddam

Ummul Kitab Adalah Ibu dari segala aktifitas kita, jadikanlah ummul kitab sebagai permulaan semua aktivitas kita, supaya aktifitasmu terarah oleh-Nya

Kamis, 23 Juni 2011

ARTI ASSALAMU’ALAIKUM


Islam memiliki akar kata salam. Salam berarti damai, aman, atau selamat. Dengan demikian makna Islam bisa diartikan kedamaian, keamanan, atau keselamatan. Islam merupakan jalan dan tuntunan untuk menghindari ketidak-damaian, ketidak-amanan, dan ketidak-selamatan. Demikian sebagaimana makna kata agama, a berarti tidak, sedangkan gama berarti kekacauan.

Berdasarkan asas dasar tujuan agama Islam tersebut di atas, maka setiap pemeluk atau ummat Islam harus memiliki keluasan untuk menebarkan benih-benih kedamaian, keamanan, dan keselamatan dalam setiap aspek kehidupan. Inilah arti sejati manusia sebagai khalifatullah fil ardzi, manusia sebagai pemakmur dunia.

Sebagai salah satu amalan kecil untuk menebarkan kedamaian adalah perintah untuk menebarkan salam, “kedamaian”, diantara sesama manusia. Ini merupakan amalan yang langsung ditauladankan oleh Kanjeng Nabi Muhammad, dan seringkali sangat diwanti-wanti oleh para kiai dan ustadz. Makna sempit dari memberikan salam adalah mengucapkan kalimat “Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh”. Bila mengacu kepada pemaknaan yang lebih luas untuk menebarkan rasa kedamaian, keamanan, dan keselamatan, maka bisa saja ungkapan salam disampaikan dalam ideom lokal sesuai adat istiadat dan budaya setempat.

Maka dari itu kalimat salam bisa saja berbunyi selamat pagi, selamat jalan, sampai jumpa, kulo nuwun, slamet to kabare, hai, how are you, dan lain sebagainya. Ungkapan penggantian salam ini memang pernah menjadi polemik yang sengit pada saat dilempar Gus Dur ke publik beberapa dekade yang lalu.

Jika ditelaah lebih mendalam, maksud Gus Dur adalah pengungkapan suatu ajaran agama dalam hal hubungan muammalah ke dalam tradisi yang muncul dari kearifan lokal (local wisdom). Ini sekaligus sebagai isyarat bahwa Islam tidak identik dengan Arab, sehingga sekaligus bahwa Arab adalah Islam.

Sebagai ungkapan uluk salam yang mendamaikan, sudah tentu semestinya bila seseorang mendengar ungkapan tersebut dari orang lain ia akan merasakan frekuensi dan gelombang kedamaian dari si pemberi salam. Namun apakah memang demikian yang kita rasakan?

Ungkapan Kanjeng Nabi memang sudah jelas bahwa innamal a’malu binniyat, segala sesuatu tergantung dari niatnya. Bila si pengucap salam memiliki kejernihan dan kesholehan hati, maka hati tersebut akan memancarkan gelombang kesucian yang menyejukkan bagi orang lain yang dapat menangkap gelombang tersebut. Lain halnya bila ungkapan salam diucapkan untuk tujuan dan pamrih tertentu yang jauh dari nilai ketulusan. Maksudnya gimana to?

Begini, di jaman serba susah ini segala hal memang mengalami politisasi demi kepentingan tertentu yang lebih bersifat ekonomi keduniawian. Nah, demikian halnya dengan ungkapan salam tadi. Seorang pengemis, anak jalanan, atau preman dan pemalak juga sering menggunakan ungkapan salam untuk membangkitkan rasa iba. Bila seorang pengemis atau anak jalanan yang memang benar-benar dilemahkan mengungkapkan salam dari kedalaman hati, pastilah pancaran gelombang yang muncul juga murni dan jujur. Dengan demikian bisa jadi yang tersentuh oleh gelombang salam yang tulus tersebut akan tergerak untuk mengulurkan bantuan, meski sekedar sekeping uang receh.

Lain halnya bila seorang preman, bahkan pemalak, mengungkapkan salam! Bukannya rasa aman atau damai yang dirasakan oleh orang, malahan perasaan terancam dan keterpaksaan. Ini karena uluk salam mengandung udang di balik batu, tiada keikhlasan dan ketulusan untuk bersilaturahmi. Salam hanya diperalat untuk kepentingan mendapatkan uang.

Pengalaman lain bisa pula dijadikan bahan perenungan. Di jaman yang dikatakan sebagai jaman wis akhir ini, memang nampak begitu semangatnya ummat Islam untuk membangun dan mempermegah bangunan masjid. Satu sama lain seolah-olah terjebak dalam kompetisi untuk berlomba-lomba memperindah fisik masjid. Bila hal ini disertai pula dengan usaha pemakmuran masjid tentu saja akan sangat bagus. Namun yang seringkali terjadi adalah kompetisi kemegahan secara fisik semata, dengan mengabaikan sisi pemakmurannya. Inilah hal yang mempercepat kedatangan hari akhir.

Demi maksud di atas, berbagai cara ditempuh dalam usaha penggalangan dana. Ada yang mencegat kendaraan di tengah jalan sambil menyodorkan kotak atau jaring infak. Ada yang memasang kenclengan di toko, warung, atau fasilitas umum yang lain. Ada pula yang mengedarkan proposal dari satu instansi ke instansi yang lain. Model lainnya, mengetuk pintu dari rumah ke rumah, door to door istilahnya. Nah kemudian apa hubungannya dengan salam?

Salam seringkali digunakan sebagai ungkapan untuk menyapa para calon penyumbang. Sekali lagi, bila ungkapan tersebut tulus dan memang pengumpulan dana benar-benar untuk tujuan kebaikan pastilah orang lain akan bersimpati. Lain halnya bila niatnya untuk memperkaya diri sendiri, dan ini memang sudah banyak terungkap di berbagai pemberitaan.

Niat yang baik alangkah lebih baik bila dilakukan dengan langkah yang baik pula. Seorang pengurus masjid di musholla sebelah hampir setiap hari mengucapkan salam di setiap pintu warga. Assalamu’alaikuuuuuum……..demikian sapaan nyaring di depan pintu. Para wargapun semakin hafal bahwa si bapak pasti akan menyodorkan kresek hitamnya untuk meminta uang sumbangan guna pembangunan musholla yang tidak pernah ada henti-hentinya. Sedemikian hafalnya dengan uluk salammnya si bapak, sampai-sampai para ibu-ibu menjulukinya dengan sebutan Pak Salam.

Sebenarnya bila penyaluran infak warga dikelola dengan sistem yang baik, tentulah warga tidak merasa keberatan. Namun bila hampir tiap hari Pak Salam beruluk salam, sudah pasti warga lama kelamaan menjadi gundah. Bukannya tidak ikhlas, tetapi kok kemudian warga merasa tiap hari harus setor uang keamanan ya? Kemudian dimana bedanya Pak Salam dengan preman pemalak anak jalanan yang setiap hari minta setoran dari anak jalanan “asuhannya”?

Bila waktu penarikan sumbangan agak diperlonggar, katakanlah sebulan sekali, bukankah warga akan lebih ikhlas, tidak terganggu dan pastinya memberi lebih banyak. Bandingkan bila tiap hari ditarik uang amal, paling yang keluar sewu mawon! Itupun sekedar rasa tidak enak hati, dan sudah pasti dengan hati yang masgul. Intinya tidak ada keikhlasan dalam beramal.

Jadi arti salam yang terakhir ini adalah minta duit. Dan ini jelas tidaklah membuat hati orang menjadi tentram dan akrab, melainkan merasa terganggu bahkan terkadang sangat muak!

Sumber : sang nananging jagad

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar