berawal dari kecintaan terhadap Indonesia Raya,saya tertarik untuk mengexplore culture Indonesia , supaya orang-orang Indonesia sadar dengan jati diri asli orang Indonesia Raya
saddam
Minggu, 01 Januari 2012
Menghormati Orang Tua (birrulwalidain)
Dalam hal ini al Qur 'anpun memberi batasan, misalnya seperti yang disebutkan dalam surat al Isra, bahwa seorang anak tidak boleh berkata kasar apalagi menghardik kepada kedua orang tuanya(Q/17:23). Seorang anak juga harus menunjukkan sikap berterima kasihnya kepada kedua orang tua yang menjadi sebab kehadirannya di muka bumi. Di mata Allah sikap terima kasih anak kepada orang tuanya dipandang sangat penting, sampai perintah itu disampaikan senafas dengan perintah bersyukur kepadaNya (anisykur li wa liwa lidaika (Q/31:14)).
Meski demikian, kepatuhan seorang anak kepada orang tua dibatasi dengan kepatuhannya kepada Allah. Jika orang tua menyuruh anaknya melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perintah Allah, maka sang anak dilarang mematuhi perintah orang tua tersebut, seraya tetap harus menghormatinya secara patut (ma'ruf) sebagai orang tua (Q/ 31:15). Seorang anak, oleh Nabi juga dilarang berperkara secara terbuka dengan orang tuanya di forum pengadilan, karena hubungan anak —orang tua bukan semata-mata hubungan hukum yang mengandung dimensi kontrak sosial melainkan hubungan darah yang bernilai sakral. Sementara itu orang tua harus adil dalam memberikan kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Diantara kewajiban orang tua kepada anak-anaknya adalah; memberi nama yang baik, menafkahi, mendidik mereka dengan agama (akhlak kehidupan) dan menikahkan jika sudah tiba waktunya.
Adapun jika orang tua sudah meninggal, maka kewajiban anak kepada orang tua adalah (a) melaksanakan wasiatnya, (b) menjaga nama baiknya, (c) meneruskan cita-citanya, (d) meneruskan silaturahmi dengan handai tolannya, (e) memohonkan ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala
Rabu, 06 Juli 2011
KUN 'ALIMAN

Kun ‘aliman, au muta’alliman, au mustami’an, au muhibban. Walam takun khomisan, fatahlik. Begitu instruksi Rasulullah. Kalau diterjemahkan secara bebas, kira-kira begini : “dadio wong ‘alim, nek ora yo wong nyantri, nek ora yo ngaji kuping, nek ora yo wong sing seneng karo pengajian”. Ojo dadi sing nomer lima, mengko cilaka. Yang nomer lima itu
gimana? Ya yang tidak termasuk salah satu dari empat yang telah disebut.
Ini kan cermin ya, kita bisa mengukur diri kita masing-masing kira-kira posisi kita dimana. Kalau memakai cara berpikir linear, berarti yang paling tinggi itu jadi orang ‘alim. Orang ‘alim itu siapa? Orang ‘alim adalah orang yang dianugerahi Allah ‘ilmu. ‘ilmu itu apa? ‘ilmu itu cahaya. Lho kok cahaya? Iya, karena ‘ilmu menerangi yang gelap, menjelaskan yang tidak jelas.
Kalau tidak sanggup jadi yang tertinggi, ya nyantri. Belajar sama orang yang sudah ‘alim. Apa-apa yang beliau ajarkan, dicatet. Kalau bisa ngabsahi kitab di pondok pesantren. Kalau ndak sanggup, ya ngaji kuping. Nah perbedaan utama antara santri dan orang yang ngaji kuping, adalah di dokumentasi. Santri mendokumentasikan hasil ngajinya, sedang pengaji kuping hanya mendengar. Ia hanya mengandalkan kemampuan otak untuk mengingat-ingat apa yang diajarkan sang ‘alim. Kalau masih ndak sanggup, yasudah yang penting jangan membenci pengajian, jangan membenci orang mengaji. Cintailah, ikut bersuka-rialah ketika melihat atau mendengar ada pengajian akan digelar. Ikut bergembiralah kalau melihat orang berbondong-bondong berangkat mengaji. Cintailah mereka, meskipun mereka bikin macet jalanan. Kagumilah mereka, yang berangkat mengaji hingga larut malam, sedang kita untuk sholat saja terasa berat. Bersangka baiklah kepada mereka, meski terkadang tingkah mereka menurut anda kurang baik. Pokoknya, cintailah orang yang mengaji, cintailah majelis-majelis ‘ilmu.
Sampai disini saya ingin menawarkan perspektif. Tadi saya bilang itu kalau memakai cara berpikir yang linear. Saya mencoba memakai cara berpikir yang tidak linear. Jadi kalau tadi kan tahap-tahapnya : penggembira -> ikut ngaji kuping -> nyantri -> jadi orang ‘alim. Nah, dalam cara berpikir yang saya maksud, sang orang ‘alim akan kembali menuju posisi sang penggembira/pecinta. Hanya konteksnya lebih mendalam dan meluas.
Logikanya begini, semakin ‘alim seseorang, maka ia akan semakin merasa tidak tahu, sehingga ia justru semakin ingin untuk belajar. Semakin ‘alim atau mengerti, maka orang itu akan semakin berguru pada banyak orang. Ia menjadi santri lagi, ia muta’allim lagi. Selanjutnya, semakin mendalam dan meluas ilmu seseorang, maka ia semakin mau mendengarkan pihak lain. Ia semakin menghargai orang lain. Ia pun menjadi mustami’an lagi. Nah, pada akhirnya, kemudian setelah muta’alliman lagi, mustami’an lagi, ia akan menjadi seorang muhibban, sang pecinta. Ia akan menjadi seorang pecinta sejati. Ia mencintai, menampung semua pihak, sebagaimana cinta para nabi dan rasul terhadap ummatnya.
Kalau mau digambar, saya membayangkan strukturnya berbentuk lingkaran. Jadi titik asal kembali menjadi tujuan. Seseorang tidak akan pernah sampai titik akhir dimana ia merasa selesai. Ia akan terus mengembara dalam struktur ini. Ia tidak akan membiarkan hatinya merasa puas ; wah saya sudah jadi orang ‘alim nih. Dan menjadi relevanlah peribahasa ; padi semakin berisi semakin menunduk, semakin mendekat ke bumi.
Syaikh Muhammad Ainun Nadjib, pernah menawarkan wacana cara berpikir. Menurut beliau, ada cara berpikir linear, zig-zag, spiral, dan siklikal. Saya sendiri belum paham betul apa yang dimaksud zig-zag dan spiral. Saya hanya paling jauh memberanikan diri menduga kira-kira yang saya tuliskan di atas tadi mungkin itu termasuk cara berpikir siklikal. Wallohu a’lam.
Senin, 20 Juni 2011
KuliahKu
SEKOLAH TANPA SEKOLAH: PENDIDIKAN ALTERNATIF 'QARYAH THAYYIBAH' DI SALATIGA
Tak terbayangkan dalam benak kita ada sekolah tanpa pagar, tanpa tiang bendera, tanpa bel, tanpa gedung sekolah, bahkan tanpa plang yang menunjukkan bahwa ada sekolah. Tetapi itulah yang terjadi di Desa Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah. Sebuah komunitas belajar yang mengusung ide pendidikan alternatif muncul dan mengagetkan dunia pendidikan kita yang carut marut ini. Gaungnya tidak hanya bergema di negeri ini namun sudah terdengar hingga kancah internasional.
Sudah mengendap dalam benak kita bahwa kalau ingin menuntut ilmu berarti kita harus sekolah. Dan itu tidak sepenuhnya salah. Masalahnya, sekolah saat ini tidak hanya menuntut tekad bulat untuk menuntut ilmu, namun juga harus diiringi kesediaan merogoh kocek dalam-dalam. Untuk menyekolahkan anak setingkat SD di sekolah negeri, meski disebut gratis, tetap ada biaya yang harus dikeluarkan orangtua saat awal masuk sekolah berkisar antara 100 hingga 500 ribu rupiah, misalnya untuk seragam, buku, dan lain-lain. Sementara untuk masuk SD swasta, apalagi SD favorit di kota besar, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai jutaan rupiah.
Demikian juga ketika kita ingin menyekolahkan anak di tingkat SMP dan SMA. Biaya yang dikeluarkan tentu lebih tinggi. Kira-kira 500 sampai 1 juta rupiah harus disediakan orangtua pada saat penerimaan siswa baru. Uang sebesar itu tentu tidak terasa besar bagi mereka yang berpenghasilan rutin dengan jumlah jutaan rupiah. Namun bagi mereka yang tidak punya penghasilan tetap tentunya uang sejumlah itu akan sangat membebani hidup. Bayangkan saja, untuk biaya makan sehari-hari saja sudah susah apalagi harus menanggung biaya sekolah yang tidak sedikit.
Keresahan mengenai mahalnya biaya pendidikan pun mendorong Bahruddin, inisiator sekaligus penggerak model pendidikan alternatif di Salatiga mengajukan ide untuk membangun Learning Based Community (pendidikan berbasis komunitas) di desa Kalibening, kecamatan Tingkir, Salatiga. 'Sekolah' yang pada awalnya menampung 12 siswa setingkat SMP ini diberi nama Qaryah Thayyibah (QT) yang berarti Desa milik Allah yang dilimpahi keberkahan. Kini QT sudah memiliki 150 siswa setingkat SMP dan SMA.
Belajar sesuai kebutuhan
Pendidikan akternatif yang digagas oleh Bahruddin merupakan konsep yang dia kembangkan sendiri berdasar pengalaman dan buku-buku yang dibacanya. Prinsip dasarnya adalah memberi kebebasan pada siswa untuk belajar apa pun yang mereka sukai. Guru (di QT disebut pendamping) hanya memberikan ide atau masukan, apakah nanti akan diterima anak atau tidak, semua dikembalikan ke siswa.
Konsepnya mirip dengan homeschooling, namun ada beberapa hal yang membedakannya. Pertama, homeschooling masih memiliki kurikulum dan mata pelajaran yang harus dipelajari siswa. Sedang di QT tidak ada acuan mata pelajaran. Semua siswa bebas menentukan apa yang ingin mereka pelajari. Kedua, pelaksanaan homeschooling sering dikritik membatasi interaksi anak dengan orang lain. Sedangkan di QT, lingkungan sekitar dan masyarakatnya adalah 'sekolah' bagi siswa QT. Jadi model pendidikan alternatif dijamin tidak akan mengisolasi siswa dari lingkungannya. Justru mendorong siswa untuk terlibat aktif di lingkungannya.
Karena berbasis pada lingkungan pulalah, siswa QT diharapkan mampu menjawab permasalahan-permasalahan yang dihadapi lingkungan tempat mereka berada. “Ada seorang warga yang mengeluh pada anaknya kalau sekarang ini mau makan makanan yang bergizi harganya serba mahal. Lalu anaknya membawa permasalahan itu ke sekolah, anak-anak berdiskusi dan muncullah ide untuk membuat peternakan belut. Lalu anak-anak belajar tentang budidaya belut lalu sama-sama mereka praktek membudidayakannya,” cerita Bahruddin.
Sungguh berbeda jauh dengan kebanyakan kita yang sudah melahap berbagai pelajaran di sekolah namun tidak mampu memberikan solusi pada permasalahan sekitar. “Selama ini kita kan diajarkan agar banyak menyerap pengetahuan tapi akhirnya kita malah jadi konsumtif alias tidak produktif. Pengetahuan itu seperti vitamin, dibutuhkan untuk tubuh kita secukupnya saja jangan sampai berlebih,” tambah ayah 3 anak ini.
Mandiri dalam belajar
Pendidikan alternatif yang diusung Bahruddin sebenarnya mendidik anak agar mandiri dalam belajar. Ini hal penting yang justru sering tidak kita dapatkan di dunia pendidikan kita. Anak-anak yang pergi ke sekolah setiap pagi, pulang sore hari, 6 hari selama seminggu, kebanyakan datang ke sekolah lebih sebagai formalitas bukan dengan niat murni untuk menuntut ilmu. Sampai di sekolah pun anak memposisikan diri sebagai 'wadah' yang siap menerima apa pun yang diberikan oleh guru. Padahal hakekatnya, anak bukanlah tempat kosong yang tidak berisi apa-apa. Artinya, anak-anak itu sudah memiliki bekal-bekal yang dapat mendorong mereka untuk belajar. Misalnya pengalaman, informasi dari televisi, buku maupun dari tempat lain.
Hal seperti itu tidak terjadi di QT. “Aku kan emang dari awal suka musik. Aku belajar sendiri dengan baca internet dan download video-video tentang musik. Terus aku mau belajar gitar, belajarnya dengan cari di internet gimana caranya main gitar lalu aku coba-coba sendiri sampai bisa. Terus kalau bikin lagu, aku kan punya temen yang bisa buat lagu ya aku belajar sama temenku itu dan ini bisa dilakukan sendiri saja dan kadang kami juga mendatangkan guru juga. Pas mau rekaman juga gitu. Aku ikut temen atau lihat Pak De (paman-red) yang memang pemusik, gimana caranya rekaman. Liat di studio, aku pelajari dan aku bawa ke sini untuk dipelajari sama-sama dengan teman-teman,” ungkap Ikhwan (19), salah seorang lulusan QT.
Hal menarik yang bisa kita dapatkan dari QT ini, anak jadi terbiasa belajar secara mandiri. Bayangkan, jika selama 6 tahun mereka dilatih untuk memilih sendiri apa yang akan mereka pelajari. Juga merumuskan sendiri (bersama teman satu forum) materi yang akan dipelajari dan menyiapkan sendiri segala macam perangkat yang dibutuhkan untuk belajar, maka bisa dipastikan setelah lulus 'sekolah' dia tidak akan kesulitan untuk terus belajar meski sudah tidak berada di lingkungan sekolah.
Sementara fenomena yang sering kita lihat, banyak anak lulus SMA belum memiliki karya, bahkan banyak yang menjadi 'masalah' bagi lingkungannya. Padahal dalam Islam juga ada terminologi bahwa orang yang paling baik adalah orang yang bermanfaat bagi lingkungannya. Dengan kata lain orang yang paling baik bisa menyelesaikan permasalahan lingkungannya.
Dibebaskan justru berprestasi
Banyak yang berpikir bahwa untuk berprestasi anak harus diberikan pengarahan dengan ketat. Diikutkan berbagai les dengan jadwal yang padat, tidak banyak bermain-main dan penuh dengan hal serius lainnya. Ternyata hal ini terpatahkan dengan sistem pendidikan alternatif di QT. Dengan ketiadan jadwal pelajaran, tanpa guru, gedung sekolah, laboratorium justru mendorong para siswa untuk kreatif.
“Maia Rosyida, sudah menulis 20 buku. Saat ini umurnya 18 tahun,” ungkap Bahruddin. Saat mulai bersekolah di Qoryah Thayyibah, Maia menyampaikan kalau suka menulis, maka yang dilakukan para pendamping adalah mendukung dan mendorongnya untuk terus menulis. Hasilnya, benar-benar tak terduga, karena si anak didukung melakukan sesuatu yang sesuai minatnya, dalam waktu singkat 20 buku berhasil ditulisnya. Sebagian dijilid, di-copy dan disebarluaskan oleh pihak sekolah, sebagian lagi diterbitkan oleh penerbit profesional.
Fina, Izza dan Siti, tiga orang siswa QT berhasil menerima penghargaan Creative Kids Award dari Yayasan Creatif Indonesia pimpinan Seto Mulyadi. Ketiga anak itu membuat karya tulis berjudul “Haruskah UN Dihapus?” Karya tulis itu dibuat sebagai tugas akhir sebelum mereka lulus dari QT.
Belum lagi sejumlah karya berupa hasil penelitian, film, musik yang dibuat oleh siswa-siswa QT. Semua karya tersebut ide orisinal dari si anak dengan masukan para pendamping. Beberapa siswa sudah biasa diminta berbicara di depan para pejabat publik, seperti Hilmy (15) yang diminta berpidato di depan 90 kepala sekolah berprestasi di seluruh Indonesia. Semua karya yang mengagumkan itu bersumber pada sebuah prinsip pendidikan yang membebaskan anak untuk mempelajari apa yang dia suka, sambil tetap mendampingi dan mendukung sebisa mungkin.
Mengelola internet sendiri
Salah satu perangkat yang berperan penting dalam pelaksanaan pendidikan alternatif QT adalah akses internet penuh 24 jam. Semua siswa 'dibiarkan' mandiri belajar, salah satunya dengan panduan “Om” Google. Akses internet memang ibarat samudra luas tanpa batas yang berisi segala hal, baik yang positif maupun negatif. Di QT, semua siswa bebas mengakses internet, tentunya tetap dengan aturan tertentu. Sebab kebebasan yang bertanggungjawab adalah prinsipnya.
Bagaimana komunitas ini bisa memiliki akses internet 24 jam? Awalnya memang ada seorang pengusaha yang menyediakan internet di komunitas ini. Namun kemudian, komunitas ini memakai jasa internet yang diluncurkan Telkom dan dikelola secara mandiri. Mereka membuat aturan seperti biaya Rp2000 per-jam untuk pemakaiani internet. Dari hasil pengelolaan internet itu mereka mampu membayar tagihan internet plus membayar uang listrik per bulannya.
Dari pengalaman komunitas ini kita bisa belajar bahwa jika anak-anak usia 13-19 tahun yang tinggal di lereng gunung saja bisa mengelola 'sekolah'nya dengan baik, maka sebenarnya hal yang sama bisa juga dilakukan di tempat lain dan oleh siapa pun. Hanya dibutuhkan komitmen yang kuat dan kemauan untuk mewujudkannya. Terasa berat? Bisa jadi, sebagai awalnya. Namun tidak ada kata tidak mungkin jika kita mau mencobanya.
Oleh : Aini Firdaus
Analisis
Pendidikan Indonesia mulai sudah melek terhadap kebutuhan yang sebenarnya dibutuhkan peserta didik, masyarakat, dan negara kita. Salah satunya adalah sekolah tanpa sekolah : Pendidikan Alternatif Qoryah Thoyybah Kalibening Salatiga yang didirikan Bahrudin karena kegelisahan beliau melihat anak-anak orang tani di desanya yang tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMP karena mahalnya biaya yang harus di bayar. Dan Qoryah Thoyyibah tidak sendirian, ada juga Kandank Jurank Doank di Jakarta yang dikelola oleh Dik Doank, di desa Mngunan Yogyakarta ada Sekolah Mangunan yang didirikan alm. Romo Mangun, SALAM (sanggar anak alam) di dekat bantaran kali code Yogyakarta sebagai anak dari sekolah Mangunan, di Bogor, Surabaya juga masih banyak lagi. Semoga Indonesia akan semakin melek dengan amal Ihsan Pendiri-pediri sekolah tersebut. Amin
Sumber di ambil dari : Qoryah Thyyibah